Tidak Setiap Dinding Hotel Butuh Wall Art

Date:

Dalam setiap proyek budget hotel yang ditangani, Artavia—sub-brand modular wall art dari Spasium—selalu membawa pertanyaan yang sama ke meja perencanaan: di mana wall art benar-benar dibutuhkan? Jawabannya, menurut pengalaman Artavia di lapangan, hampir selalu sama. Bukan di setiap dinding, melainkan di titik-titik yang paling berdampak pada pengalaman tamu.

Dari situ, Artavia menyusun pendekatan yang lebih terarah untuk segmen budget hotel: bukan soal mengisi ruang, melainkan soal memilih dampak visual yang tepat. Prinsip ini bertumpu pada tiga variabel yang dinilai di setiap titik dinding—seberapa tinggi visibilitasnya, seberapa besar interaksi tamu yang terjadi di sana, dan seberapa kuat relevansi karya terhadap experience arsitektural ruang. Ketiganya bersama-sama menentukan prioritas: makin tinggi ketiga variabel itu bertemu di satu titik, makin besar alasan untuk menempatkan wall art di sana.

“Yang kami pelajari dari lapangan, dinding yang paling sederhana pun bisa menjadi statement—jika penempatannya tepat. Dan dinding yang penuh pun bisa tak berkesan, jika tidak ada yang benar-benar memperhatikannya,” ujar Jay Adinata, CMO Artavia.

Berdasarkan prinsip itu, Artavia mengidentifikasi empat titik yang secara konsisten memberi dampak terbesar di properti budget hotel, masing-masing dengan peran yang berbeda satu sama lain.

Titik pertama adalah arrival dan lobby, tempat impresi pertama tamu terbentuk begitu mereka melangkah masuk. Satu karya yang tepat di titik ini, menurut Artavia, akan memberikan impresi awal yang sesuai dengan ekspektasi desain yang diharapkan, dan experience ruang yang lebih eksklusif.

Titik kedua adalah guest room—ruang yang justru paling sering terlewat dalam perencanaan seni, padahal di sinilah tamu menghabiskan sebagian besar waktu mereka selama menginap. Di ruang paling personal ini, wall art berbicara langsung kepada tamu saat mereka sedang paling rileks.

Titik ketiga adalah titik transisi seperti lift lobby dan koridor utama—momen-momen singkat di antara ruang utama yang mudah diabaikan, tetapi jika diperhatikan justru memperkuat kontinuitas narasi visual sepanjang perjalanan tamu di dalam properti.

Titik keempat adalah area ikonik: satu titik yang sengaja dirancang menjadi momen visual paling diingat, sekaligus paling sering dibagikan tamu di media sosial seperti di dining area, seating area di taman terbuka, area depan bangunan hotel yang berfungsi memperkuat identitas, dan lain-lain.

Pendekatan empat titik ini sudah diterapkan Artavia pada sejumlah proyek budget hotel di Jabodetabek, Surabaya, dan Sumatra—mulai dari area penerima tamu, kamar, koridor, hingga dinding signature yang dirancang khusus sebagai titik area ikonik properti.

“Dari keempat titik ini, kami belajar bahwa selektivitas adalah bentuk penghormatan terhadap ruang dan tamu,” tutup Jay Adinata.

“It’s not about filling every wall—it’s about creating the moments that matter.”

Artikel ini juga tayang di vritimes

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Populer

Mungkin Anda Suka
Related

Ada Cerita Cinta hingga Drama Skripsi di Dinding Sekolah dan Kampus, Cokelat Take-It Bisa Diambil di Tengah Cerita

Melalui instalasi OOH di sekolah-sekolah dan kampus seperti SD...

Usai Raih World Artist of the Year, JessC Perluas Langkah Musik di Indonesia

JessC meraih penghargaan World Artist of the Year di...

Cara Membuat Website Toko Online Sendiri Sebelum 11.11 dan Harbolnas

Cara membuat website toko online sendiri lebih banyak soal...

BINUS Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor melalui NEST di QS Higher Ed Summit Asia Pacific 2026

Bali, 3 November 2026 — BINUS bersama mitra...