Meningkatkan Efisiensi First Mile: Peran Karlo dalam Menghubungkan Shipper dan Transporter

Date:

Artikel ini menyoroti peran Karlo dalam memperkuat kolaborasi antara shipper dan transporter melalui solusi digital yang efisien. Dengan pendekatan yang adaptif terhadap kebiasaan operasional pengguna, Karlo membantu menyederhanakan proses pengiriman dari first mile tanpa mengganti sistem yang sudah berjalan di lapangan.

Jakarta, 2026 — Dalam dunia logistik yang kian dinamis, kolaborasi antara pemilik barang dan transporter ataupun penyedia jasa angkutan menjadi kunci utama efisiensi operasional. Di balik layar proses distribusi yang tampak sederhana, ada tantangan besar dalam koordinasi, kejelasan data, dan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Di tengah kompleksitas ini, solusi digital seperti yang ditawarkan oleh Karlo mulai menjadi jembatan yang mempermudah dua pihak tersebut untuk saling terhubung secara lebih transparan dan terstruktur.

Seorang pelaku bisnis baja asal Banten, Lutfi, mengungkapkan bahwa sebelumnya ia harus mengandalkan banyak komunikasi manual hanya untuk mengatur satu pengiriman besar. “Sebelum masuk ke ekosistem Karlo, proses operasional saya sangat bercabang dan terpisah. Kita bisa habiskan satu hari penuh hanya untuk sinkronisasi dokumen pengiriman dan konfirmasi dari transporter,” ujarnya.

Namun sejak menggunakan platform logistik digital yang mengintegrasikan shipper dan transporter, proses tersebut berubah signifikan. Pengguna kini bisa melihat order, kendaraan, dan status pengiriman dalam satu tampilan. “Sekarang saya bisa tracking progress pengiriman langsung dari pelabuhan ke gudang saya tanpa harus terus-menerus menelepon sopir atau pihak logistik. Efisiensinya kerasa banget,” lanjut Lutfi. 

Menurut perwakilan dari tim operasional Karlo,Reynaldi yang biasa disapa Rey mengungkapkan tantangan utama memang bukan sekadar menyediakan teknologi, tetapi memastikan semua pelaku logistik bisa nyaman menggunakannya. “Fokus kami adalah membuat solusi yang praktis dan familiar di lapangan. Baik shipper maupun transporter dan driver butuh sistem yang responsif, bukan ribet,” jelasnya.

Rey juga menambahkan bahwa pendekatan yang mereka lakukan bukan hanya dari sisi software, tapi juga edukasi dan integrasi dengan kebiasaan operasional pengguna. “Kita melihat banyak shipper di Indonesia yang belum sepenuhnya terdigitalisasi. Tantangan kami justru di situ, menyederhanakan, bukan mengganti kebiasaan yang sebelumnya terbentuk di internal perusahaan,” ungkapnya.

Artikel ini juga tayang di vritimes

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Populer

Mungkin Anda Suka
Related

Profesional Muda Bangun Layanan Manajemen Hukum dan Pengembangan Bisnis (KAN Strategic) di Batam

KAN Strategic resmi hadir di Batam pada Agustus 2025...

Hollow Galvanis untuk Kanopi & Rangka Baja Ringan: Kuatkah untuk Jangka Panjang?

Banyak proyek kanopi terlihat kokoh di awal, tapi...

Prospek Emas Masih Positif, XAU/USD Berpeluang Menguat ke Area $5.386 pada Pekan Depan

Pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih akan melanjutkan...

8 Tahun Kolaborasi EVOS dan Pop Mie: Konsisten Menggerakkan Semangat Generasi Muda Esports Indonesia!

Kemitraan strategis antara EVOS dan Pop Mie terus berlanjut,...