Tujuh Stasiun Daop 2 Bandung Jadi Simpul Mobilitas Yang Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi di Jabar

Date:

Info Daop 2 Bd

Rabu, 30 September 2026

Tujuh Stasiun Daop 2 Bandung Jadi Simpul Mobilitas Yang Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi di Jabar

Bandung (Jawa Barat), 30 September 2026 – Mobilitas masyarakat perkotaan membutuhkan sistem transportasi yang terintegrasi, mudah diakses, dan saling terhubung. Dalam konteks tersebut, stasiun kereta api tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik dan turun pengguna jasa KA, tetapi juga menjadi simpul mobilitas yang menghubungkan perjalanan masyarakat dengan berbagai moda transportasi serta aktivitas ekonomi di kawasan sekitarnya.

Di wilayah kerja KAI Daop 2 Bandung, terdapat tujuh stasiun yang menjadi simpul penting perjalanan Kereta Api Jarak Jauh, yaitu Stasiun Bandung, Kiaracondong, Tasikmalaya, Banjar, Garut, Purwakarta, dan Cimahi. Ketujuh stasiun tersebut melayani mobilitas masyarakat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari perjalanan bisnis, pendidikan, wisata, hingga aktivitas sosial dan ekonomi antarkota di Jawa Barat maupun menuju berbagai daerah di Pulau Jawa.

Manager Humasda KAI Daop 2 Bandung Kuswardojo mengatakan, pertumbuhan mobilitas masyarakat yang menggunakan kereta api perlu diikuti dengan penguatan konektivitas antara stasiun dan kawasan di sekitarnya. “Stasiun merupakan salah satu simpul penting dalam ekosistem transportasi perkotaan. Ketika akses menuju stasiun semakin terintegrasi dengan angkutan umum, kendaraan pribadi, layanan pengumpan, fasilitas umum di perkotaan, maupun aktivitas di kawasan, maka perjalanan masyarakat menjadi lebih mudah dan efisien,” ujar Kuswardojo.

Berdasarkan data KAI Daop 2 Bandung, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tujuh stasiun tersebut telah melayani 2.714.899 pengguna jasa KA yang berangkat menggunakan Kereta Api Jarak Jauh. Jumlah tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 2.458.383 pengguna jasa KA atau meningkat sekitar 10,43 persen.

Stasiun Bandung menjadi stasiun dengan jumlah pengguna jasa KA berangkat terbanyak pada periode Januari s.d. Agustus 2026, yaitu 1.162.299 pengguna jasa, meningkat dari 1.042.483 pengguna jasa pada periode yang sama tahun 2025. Selanjutnya, Stasiun Kiaracondong melayani 641.016 pengguna jasa, meningkat dari 637.234 pengguna jasa pada 2025.

Pertumbuhan juga terlihat di Stasiun Tasikmalaya yang melayani 297.525 pengguna jasa, dibandingkan 266.738 pengguna jasa pada 2025. Stasiun Banjar melayani 176.520 pengguna jasa, meningkat dari 160.285 pengguna jasa. Sementara itu, Stasiun Garut melayani 150.601 pengguna jasa, naik dari 131.782 pengguna jasa pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Stasiun Purwakarta mencatat pertumbuhan jumlah pengguna jasa yang cukup besar secara tahunan, dari 90.122 pengguna jasa pada 2025 menjadi 147.873 pengguna jasa pada 2026. Adapun Stasiun Cimahi melayani 139.065 pengguna jasa, meningkat dibandingkan 129.739 pengguna jasa pada periode yang sama tahun 2025.

Kuswardojo menambahkan, meningkatnya penggunaan kereta api menunjukkan bahwa stasiun memiliki peran yang semakin penting dalam mendukung pergerakan masyarakat. “Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa kereta api menjadi bagian dari aktivitas mobilitas masyarakat, baik untuk bekerja, bersekolah, berwisata, maupun menjalankan aktivitas ekonomi. Karena itu, pengembangan kawasan stasiun yang terintegrasi perlu dipandang sebagai bagian dari ekosistem transportasi yang lebih luas, bukan berdiri sendiri,” kata Kuswardojo.

Menurutnya, integrasi antarmoda dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat sejak perjalanan dimulai dari kawasan tempat tinggal hingga mencapai tujuan akhir. Konektivitas antara kereta api dengan angkutan umum perkotaan, angkutan pengumpan, layanan transportasi daring, taksi, kendaraan pribadi, serta fasilitas pedestrian menjadi bagian penting dalam membangun perjalanan yang saling terhubung.

Selain mendukung mobilitas, keberadaan stasiun juga memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan ekonomi kawasan. Tingginya mobilitas pengguna jasa KA dapat menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar stasiun, seperti perdagangan, kuliner, jasa transportasi, akomodasi, usaha mikro, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Dengan demikian, kawasan stasiun dapat berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat yang mendukung perekonomian lokal.

“KAI terus berupaya menghadirkan layanan perjalanan kereta api yang aman, nyaman, tepat waktu, dan berkesan. Namun, pengalaman perjalanan pengguna jasa KA tidak hanya ditentukan oleh perjalanan di dalam kereta, tetapi juga oleh kemudahan akses menuju stasiun dan dari stasiun menuju tujuan akhir. Karena itu, kolaborasi dan integrasi antarmoda menjadi hal yang penting untuk terus diperkuat,” tambah Kuswardojo.

KAI Daop 2 Bandung berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna jasa KA serta mendukung terciptanya ekosistem transportasi yang terintegrasi. Melalui kolaborasi antara operator transportasi, pemerintah daerah, pengelola kawasan, dan berbagai pemangku kepentingan, stasiun diharapkan semakin berperan sebagai simpul mobilitas masyarakat dan penggerak aktivitas ekonomi di Jawa Barat.

Artikel ini juga tayang di vritimes

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Populer

Mungkin Anda Suka
Related

BRI BO Veteran Gelar BRILiaN Culture Festival di Bandung, Perkuat Implementasi Budaya Kerja

Dalam rangka memperkuat implementasi budaya kerja dalam aktivitas...

Tingkatkan Pemahaman Ibadah, BRI Region 6 Bahas Sholat Qashar dalam Pengajian Jumat Rutin

BRI Region 6 kembali menyelenggarakan kegiatan pengajian Jumat...

BRILiaN Culture Festival BO Sunter, Eratkan Kebersamaan dan Hidupkan Budaya Kerja

Dalam rangka memperkuat implementasi budaya kerja dalam aktivitas...

Hadir di Mekari Conference 2026, RevComm Dukung Pemanfaatan AI di Dunia Kerja

Jakarta, 30 September 2026 — Penerapan artificial intelligence (AI) di dunia kerja...