Pagi di Asrama Pemali Boarding School selalu dimulai lebih awal. Sejumlah siswa sudah bangun sebelum matahari terbit, merapikan tempat tidur, bersiap mengikuti kegiatan pagi, sebelum benar-benar berangkat ke sekolah untuk mengikuti pelajaran akademik.
Bagi mereka, rutinitas bangun pagi ini menjadi kewajiban yang diberikan contoh dengan sangat baik dari para seniornya. Kelak, kebiasaan menjadi modal bagi mereka untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya di kampung halaman.
Di lingkungan asrama, para siswa mendapatkan ruang dan kesempatan untuk belajar dan berkembang lebih baik. Melalui program sekolah berasrama berbasis beasiswa, anak-anak peserta didik yang berasal dari keluarga buruh harian, nelayan, hingga pekerja serabutan kini memiliki akses pada pendidikan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Program Pemali Boarding School yang didukung PT Timah, anggota holding industri pertambangan MIND ID, telah berjalan sejak tahun 2000 dan menjangkau wilayah Bangka Belitung, Karimun, hingga Meranti. Hingga kini, sekitar 952 alumni telah merasakan manfaat program tersebut.
Di balik angka tersebut, Kepala Asrama Pemali Boarding School, Ulul, menyampaikan bahwa mayoritas siswa berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
“Banyak orang tua yang awalnya ragu karena keterbatasan biaya. Mereka tidak membayangkan anaknya bisa mendapatkan fasilitas pendidikan seperti ini,” ujar Ulul.
Namun, setelah memahami bahwa program ini memberikan dukungan penuh, dari perusahaan, mulai dari pendidikan hingga berbagai program pembinaan, para orang tua justru menjadi pihak yang paling mendorong anak-anaknya untuk mengikuti seleksi.
Alhasil, setiap tahun sebanyak 36 siswa terpilih mendapatkan beasiswa penuh dan tinggal di asrama selama menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Pemali. Proses seleksi dilakukan melalui asesmen akademik dan psikologi bekerja sama dengan tim dari Universitas Padjadjaran.
Ulul menegaskan bahwa pembinaan di asrama tidak hanya berfokus pada akademik. Para siswa juga dibekali keterampilan seperti public speaking, pengelolaan media sosial, serta penguatan karakter dan kepemimpinan.
Pembinaan ini dilakukan secara rutin untuk membantu siswa menghadapi tantangan di luar sekolah, baik di dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kepercayaan diri dan cara mereka melihat masa depan,” ujarnya.
Dampak program ini mulai terlihat dari capaian para siswa. Tahun ini, sebanyak 20 siswa berhasil lolos ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi, sementara siswa lainnya masih menjalani proses seleksi melalui jalur tes. Para siswa juga mencatatkan prestasi dalam lomba debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di tingkat Kabupaten Bangka.
Di samping itu, dampak yang lebih krusial justru terlihat dalam jangka panjang. Banyak alumni yang melanjutkan pendidikan atau telah bekerja, dan perlahan mulai berkontribusi kembali di lingkungan sekitarnya.
“Mereka tidak hanya berubah secara pribadi, tetapi juga membawa pengaruh bagi keluarga dan komunitasnya. Itu yang paling terasa,” katanya.
Menurut Ulul, tantangan terbesar para siswa justru muncul pada masa awal adaptasi. Sebagian siswa belum pernah tinggal jauh dari orang tua dan harus menyesuaikan diri dengan pola belajar yang lebih disiplin.
“Namun, proses itulah yang membentuk mereka. Seiring waktu, para siswa mulai menunjukkan perubahan. Mereka yang semula pendiam menjadi lebih berani berbicara, lebih percaya diri, dan mampu mengikuti ritme belajar yang lebih terstruktur,” jelasnya.
Bagi anak-anak dari pesisir dan kawasan tambang, kesempatan ini bukan sekadar soal bersekolah.
Kesempatan ini menjadi titik awal yang membuka masa depan baru, untuk melanjutkan pendidikan, membantu keluarga, dan melihat masa depan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
Artikel ini juga tayang di vritimes

